Nukilan Perkataan-Perkataan Sesat Sayyid Quthub Cs dalam Perkara Aqidah, Terorisme dan Takfir

Sayyid Quthub berkata : “Pada hakekatnya, permasalahan ini adalah permasalahan kufur dan iman, syirik dan tauhid, jahiliyah dan Islam. Dan ini haruslah jelas. Sesungguhnya manusia sekarang bukanlah orang-orang Islam meskipun mereka mangaku kaum muslimin. Mereka hidup di kehidupan jahiliyah. Jika ada orang suka untuk menipu dirinya atau orang lain, dengan dia meyakini bahwa masih memungkinkan bagi Islam itu berdiri tegak bersama jahiliyah, tipuannya tersebut tidak bisa merubah hakekat fakta yang ada sedikitpun. Ini bukanlah Islam dan mereka bukanlah kaum muslimin” (Ma’alim Fith Thariq hal. 158)

Dalam kitabnya Fii Dzilalil Quran jilid 4/2122, berkata Sayyid Quthub : “Zaman telah kembali seperti semula ketika datangnya agama ini dengan membawa kalimat laa ilaha illallahu. Manusia telah murtad/kembali kepada peribadahan kepada makhluk dan kepada kedzaliman agama-agama, dan mereka telah berpaling dari laa ilaha illallahu. Manusia secara umum, termasuk mereka yang selalu mengumandangkan di menara-menara di timur dan barat bumi kalimat laa ilaha illallahu, tanpa praktek maupun realisasi, mereka lebih berat dosanya dan adzabnya pada Hari Kiamat, karena mereka telah murtad, kembali kepada peribadahan kepada makhluk setelah jelas bagi mereka petunjuk dan sesudah mereka memeluk agama Allah ini”

Dia juga berkata : “Sesungguhnya tidak ada di muka bumi ini pada saat ini negara Islam ataupun masyarakat Islam. Kaidah bermuamalah di dalamnya adalah syariat Allah dan Fiqh Islami”

Berkata al-Qardhawi :”Pada fase ini muncullah kitab-kitab asy-syahid Sayyid Quthub yang menggambarkan fase terakhir dari pemikiran takfirnya, yaitu pengkafiran terhadap masyarakat Islam, memutuskan hubungan dengan orang lain serta mengumumkan perang (Terorisme) terhadap semua orang.” (Aulawiyaat al-Harakah al-Islamiyyah hal. 110)

Berkata Farid Abdul Khaliq : “Apa yang telah berlalu mengisyaratkan kepada kita bahwa awal mula pemikiran takfir ini muncul di tengah para pemuda Ikhwanul Muslimin di dalam penjara al-Qanathir (di Kairo Mesir) pada akhir tahun 50 an atau awal tahun 60 an. Mereka terpengaruh dengan pemikiran asy-syahid Sayyid Quthub dan buku-bukunya. Mereka mengambil ilmu darinya bahwa masyarakat sekarang dalam keadaan jahiliyah dan bahwasannya dia telah mengkafirkan penguasa kaum muslimin yang tidak mengakui hukum Allah degnan tidak berhukum dengan hukum-Nya, dan begitu pula dengan rakyatnya yang ikut meridhai hal tersebut.” (Al-Ikhwanul Muslimin fii Mizanil Haq hal. 115)

Berkata Salim al-Bahnasawi dalam kitabnya al-Hukmu wa Qadhiyatu Takfiri Muslim hal. 50 :”Sayyid Quthub telah menukil sebagian ucapan al-Maududi dan memaparkannya dalam kitab-kitabnya terutama dalam jilid ketujuh dari kitab Dzilal. Kemudian datanglah sekelompok orang yang menjadikannya landasan untuk menyatakan bahwa kaum muslimin telah kafir, karena mereka melafadzkan syahadat namun tidak mengetahui maknanya serta tidak mengamalkan kandungannya. Meskipun mereka mengerjakan shalat, puasa, haji dan mengaku sebagai kaum muslimin, hal tersebut tidaklah merubah kekafiran mereka.”

Pemimpin Ikhwanul Muslimin ketiga yaitu Umar Tilmisani dalm bukunya Dzikrayaat laa Mudzakiraat hal. 57: “Sesungguhnya Hasan al-Banna dengan kesufiannya, beliau adalah pencetus kudeta tahu 1952.”

Demikian pula Sayyid Quthub pernah berkata ketika mencela Nabi Musa ‘alahissalam : “Coba kita ambil Nabi Musa. Sesungguhnya dia adalah contoh untuk seorang pemimpin yang tergesa-gesa, fanatik, dan mazzaj” (At-Tashwir Al-Fanni hal. 200)

Mazzaj merupakan kata dalam bahasa Arab digunakan untuk makna yang buruk.(Al-Mu’jam Al-Wasith, hal 866). Lihatlah bagaimana lancangnya Sayyid Quthub terhadap Nabi Allah Ta’ala. Padahal Allah Ta’ala berfirman dalam surat At-Taubah 65-66 : “Katakanlah : “Apakah kalian memperolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya? Tidak usah kalian minta maaf, karena sesungguhnya kalian telah kafir sesudah beriman”.”

Dia juga mengatakan : “Ketika Mu’awiyah dan temanya memilih jalan kedustaan, kecurangan, penipuan, kemunafikan, suap dan membeli kehormatan, maka Ali tidak dapat melakukan perangai buruk ini. Oleh karena itu, tidak heran kalau Mu’awiyah dan teman-temannya berhasil sedang Ali gagal, tetapi kegagalan ini lebih mulia daripada semua kesuksesan.” (Kutubun wa Syakhshiyaat hal. 242)

Lebih dari itu, Sayyid Quthub bahkan berburuk sangka kepada Abu Sufyan, mertua Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam. Sayyid Quthub berkata : “Abu Sufyan adalah laki-laki yang Islam dan kaum muslimin mendapatkan darinya (siksaan dan permusuhan-pent) yang telah dicatat oleh lembaran-lembaran sejarah. Orang yang tidak berislam kecuali setelah kokohnya kemenangan Islam. Keislamannya hanyalah merupakan keislaman  di mulut dan lisan, bukan keimanan hati dan perasaan. Islam belum merasuk ke dalam hati laki-laki itu.” (Kutubun wa Syakhshiyaat (hal. 242).

Masihkah orang yang jelas-jelas melecehkan para sahabat, bahkan menghina seorang Nabi dan masih banyak lagi penyimpangannya (Untuk mengetahuinya lihat di majalah Adz-Dzakirah edisi 24).

Semoga kita diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala untuk menapaki jalan kebenaran sebagaimana jalannya Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya dan menjauhkan kita semua dari jalan-jalan yang sesat lagi menyesatkan. Wallahul musta’an.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: