Hizbut Tahrir berkata : “Aku menerima hadits (ahad) dalam Bukhary adalah shahih, namun aku TIDAK mengimaninya”

PERTANYAAN : Mereka (Hizbut Tahrir) mengatakan, “Aku menerima hadits (ahad) dalam Bukhary adalah shahih, namun aku tidak mengimaninya.” Apakah sebaiknya jawaban dan sikap kita terhadap orang seperti ini?

JAWABAN: Teks perkataan mereka tersebut terdapat dalam kitab mereka ad-Dusiyah [1] mengenai hadits (ahad) tersebut. Sebagai contohnya adalah hadits berikut, ”Ketika kamu selesai dari tasyahud akhir, ucapkanlah : ‘Ya Allah aku berlindung kepadamu dari siksa kubur dan siksa api neraka dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan mati dan fitnah al-Masih ad-Dajjal.’

Mereka (Hizbut Tahrir) mengatakan, ‘Aku mengamalkan hadits ini sebagai ilmu, oleh karena itu kami mengucapkan do’a tersebut, namun kami tidak mengimani (berita/kandungannya)!?” hal ini sungguh pertentangan yang gila! Bagaimana mungkin engkau membenarkan/menetapkan suatu pernyataan, namun engkau tidak meyakininya/mengimaninya? Hal ini sungguh tidak rasional/tidak masuk akal! Seolah-olah engkau mengatakan, ‘Aku mengucapkannya dengan lisanku namun tidak aku imani dengan hati’. Mereka tidak mengimani adanya siksa kubur, mereka tidak mengimaninya namun membenarkannya!!!

————————————————

[1] Ad-Dusiyah hal 6, teks lengkapnya adalah sebagai berikut ; “Dari Abi Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Jika kamu selesai dari tasyahud akhir, memohonlah engkau perlindungan kepada Allah dari 4 hal, dari adzab jahannam… dst” dan hadits dari Aisyah Radhiallahu ‘anha, berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berdo’a dalam sholatnya, “Ya Allah aku memohonh kepada-Mu perkindungan dari adzab kubur…dst”. Dua hadits ini adalah khobar ahad, keduanya berisi anjuran mengamalkan do’a ini setelah selesai tasyahud, sehingga termasuk sunnah berdo’a dengan do’a ini setelah selesai tasy ahud. Adapun berita yang terkandung di dalamnya boleh dibenarkan namun haram diyakini secara pasti kebenarannya!!! Yaitu beri’tiqod dengan berita dalam hadits ahad atau dengan dalil dhonniy. Namun jika khobar tersebut mutawattir, wajib beri’tiqod dengannya.” Syaikh Salim al-Hilaly mengomentari pernyataan ini dalam al-Jamaa’at hal. 317, sebagai berikut :

“Ucapan tersebut adalah pertentangan yang membingungkan! Karena  mereka memisahkan antara iman dengan I’tiqod, dan mereka menduga bahwa I’tiqod merupakan tingkatan keimanan setelah iman, dan mereka tidaklah mengetahui bahwa I’tiqod adalah asas iman. Jika kalian bukan termasuk orang-orang yang beri’tiqod (Mu’taqidin) maka pastilah kalian bukanlah termasuk orangorang yang beriman (mu’minin), karena iman tidaklah akan berfaidah tanpa I’tiqod.”

Sumber : Ebook ”Maktabah Abu Salma al-Atsari”Ada Apa Dengan Hizbut Tahrir? Tanya Jawab Bersama Syaikh Salim ’Ied al-Hilaly, hal. 28. Klik disini untuk download!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: