Membantah Ahli Bid’ah

stop bid'ah!

stop bid'ah!

Pertanyaan : Bagaimana kita menolak ahli bid’ah yang menggunakan dalil hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas bid’ah yang mereka lakukan, “Barangsiapa yang memulai suatu sunnah di dalam Islam dengan sunnah yang baik maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang lain yang mengikutinya”. (HR. Muslim, 1017)

Jawaban : Kita jawab mereka dengan mengatakan bahwa yang mengucapkan,

2“Barangsiapa yang memulai suatu sunnah di dalam Islam dengan sunnah yang baik maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang lain yang mengikutinya” (HR. Muslim, 1017)

Adalah juga yang mengatakan,

Kalian harus berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafaur ar-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama) karena seluruh perkara baru dalam agama adalah bid’ah dan seluruh bid’ah adalah sesat, sedangkan seluruh kesesatan adalah di neraka”. (HR. Imam Ahmad, 4/126. Imam Abu Daud, 4607. Imam Ibnu Majah, 42. dan Shahih al-Jami’, 2546)

Maka berdasarka hal ini, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “man sanna fil islam sunnatan hasanah…dst” harus didudukkan  dalam sebab wurud (muncul) hadits yaitu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk bersedekah kepada suatu kaum yang datang dari kabilah Mudhar sedangkan mereka dalam keadaan sangat membutuhkan bantuan  dan dalam kesulitan. Maka datanglah seorang laki-laki Anshar dengan sekantong uang perak lalu dia meletakkannya di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

1“Barangsiapa yang memulai suatu sunnah dengan sunnah yang baik maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang lain yang melakukannya hingga hari Kiamat”(HR. Muslim, 1017).

Jika kita telah mengetahui sebab munculnya hadits ini serta meletakkan makna sesuai dengan kasus yang ada, maka akan jelas bagi ktia bahwa yang dimaksud dengan kalimat, “sanna as sunnah” (memulai suatu sunnah), bukan membuat suatu syariat (ajaran), karena membuat syariat tidak dibolehkan kecuali hanya Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Dan makna yang benar dari hadits ini adalah, “Barangsiapa yang memulai suatu perbuatan baik, lalu perbuatan itu ditiru oleh orang lain, mak ia mendapatkan pahala perbuatannya dan pahala orang yang ikut melakukannya”. Inilah makna hadits yang paling jelas dan tepat. Atau mungkin ktia juga mengartikan hadits tersebut (man sanna sunnatan hasanah) dengan, “Baransiapa yang melakukan suatu sarana yang menunjang salah satu ibadah lalu sarana itu dilakukan juga oleh orang lain seperti mengarang kitab, membuat bab-bab dalam limu, membangun sekolah dan semisalnya, maka ini semua merupakan sarana untuk perkara yang diperintahkan oleh syariat. Maka jika seseorang memulai dalam melakukan sarana kebaikan ini yang menuju kepada seseuatu yang diperintahkan syariat dan tidak terlarang bendanya maka masuk dalam kategori hadits ini.”

Seandainya hadits tersebut diartikan bahwa setiap manusia berhak membuat syariat (ajaran, tata cara ibadah sendiri) sesuai keinginannya maka berarti agama Islam ini belum sempurna pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan masing-masing orang akan mempunyai tata cara ibadah dan syariat sendiri-sendiri. Jika orang yang melakukan bid’ah itu mengira bahwa apa yang dia lakukan adalah baik atau hasanah maka persangkaannya telah keliru, karena perkiraannya telah didustakan oleh sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seluruh bid’ah adalah sesat”

(Majmu’ Fatawa wa Rasa’il fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin no. 348)

Diambil dari buku terjemahan : ENSIKLOPEDI BID’AH, penerbit Darul Haq

Advertisements

2 Responses

  1. Betul sekali.

    Yang jadi masalah, adalah siapa yang berhak mengeluarkan bahwa suatu amal itu bid’ah apabila dewasa ini jumhur ‘ulam belum sepakat.

    Kadang2 satu ‘ulama menganggap suatu amalan sebagai bid’ah, ‘ulama lain menganggap sunnah.

    Sering pula ditemui, kaum yang menganggap bid’ah itu tidak mau berseteru lagi dengan yang dianggap mubtadi’ tersebut.

    Alangkah indahnya, kalau setiap nasehat disampaikan dari person 2 person, fisik ketemu fisik, dengan bahasa yang lemah lembut.

    Tapi sayang kadang2 kita lebih berani kalau menggunakan media majalah, radio, internet. Tidak berani ketemu ummat langsung.

  2. @Abdullah

    Perlu kita ketahui bersama Ikhtilaf di kalangan ulama BUKANLAH hujjah!! Namun hujjah itu adalah Kitabullah, Sunnah dan ’Ijma.

    Imam Al-Khaththabi berkata :”Ikhtilaf bukanlah hujjah, dan penjelasan Sunnah adalah hujjah atas orang-orang yang berselisih dari orang-orang terdahulu hingga orang-orang belakangan…”(A’lamul Hadits 3/2092)

    Imam asy-Syathibi berkata : ”Sesungguhnya perkara ini telah melampaui batas, sehingga jadilah ikhtilaf dalam suatu masalah digolongkan sebagai hujjah bagi bolehnya perbuatan tersebut…kadang-kadang terjadi suatu fatwa yang melarang suatu masalah, kemudian dikatakan kepada orang berfatwa tersebut : ’Mengapa engkau melarangnya, sedangkan masalah ini diperselisihkan?!’ Maka ikhtilaf dijadikan sebagai hujjah untuk membolehkan dengan sekadar argumen bahwa masalah tersebut diperselisihkan, bukan dengan dalil yang mendukung pendapat yang membolehkan….” (al-Muwafaqat 4/141)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : ”Tidak boleh bagi seorang pun beragumen dengan perkataan seseorang dalam masalah-masalah diperselisihkan, karena sesungguhnya hujjah yang benar adalah nash dan ijma’.” (Majmu’ Fatawa 26/202)

    Perlu kiranya anda memahami makna mubatadi’ itu sendiri dan bagaimana pula sikap mentahdzir (peringatan keras) dan menHajr (memboikot) mubtadi serta kaidah-kaidahnya. Sehingga anda tanpa haq mengatakan salafiyyin seperti itu. Silahkan anda baca dan pelajari artkel bagus berkaitan ttg tersebut di sini dan di sini pula!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: