Syubhat Syirik dan Bantahannya

Tujuan Wisata Syirik

Tujuan Wisata Syirik

1.) Sebagian orang menyangka bahwa kesyirikan hanya berupa menyembah patung dan hanya haram bila yang melakukan adalah orang-orang kafir. Adapun menyembah kuburan wali apalagi yang melakukannya adalah orang islam maka tidak apa-apa.

Syubhat mereka ini sama halnya dengan menganggap bahwa khomer, zina, judi hanya haram bagi orang kafir saja dan bila dilakukan oleh seorang muslim maka tidak apa-apa. Yang demikian itu tentu jauh dari Islam itu sendiri.

2.) Sebagian yang lain menyangka bahwa berdo’a kepada wali yang dikubur tidak termasuk kesyirikan, karena menurut mereka kesyirikan ialah jika mereka beribadah dengan sholat untuknya atau sujud kepadanya. Adapun do’a, menurut mereka tidak termasuk ibadah.

Padahal sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اَلّدُعَاءَهُوَالْعِبَادَةِ

Do’a adalah inti ibadah. (HR.Abu Dawud 1264, Tirmidzi 2895, Ibnu Majah 3818, Ahmad 17264, lihat Shohihul Jami’ no. 3407 oleh al-Albani).

Bahkan do’a merupakan ibadah yang paling utama

3. ) Sebagian orang menyangka bahwa kesyirikan itu apabila berdo’a meminta surga dan memohon agar selamat dari neraka kepada kuburan wali. Adapun do’a untuk meminta rezeki atau kesembuhan pada kuburan wali, maka tidak termasuk kesyirikan.

Oleh sebab syubhat semacam ini, apabila mereka berdo’a agar masuk surga atau selamat dari neraka maka mereka memohon kepada Alloh, adapun soal rezeki atau kesembuhan maka mereka berlindung kepada Alloh dari kesyirikan ini.

Mereka menganggap bahwa Alloh hanya memiliki surga dan neraka, adapun rezeki dan kesembuhan adalah milik wali. Hal ini terbukti pada perkataan sebagian mereka, ”Berdo’a kepada kuburan wali lebih cepat terkabul daripada beri’tikaf semalam dan berdo’a memohon kepada Alloh di masjid”.

Maka lihatlah, bagaimana mereka menjadikan bukti nyata di dunia sebagai sesuatu untuk menilai kebenaran. Jika terbukti mendatangkan manfaat duniawi ma haq (benar) dan dicintai oleh Alloh meskipun asalnya bathil. Dan jika tidak terbukti mendatangkan manfaat duniawi maka menurut mereka bathil walaupun kahikatnya haq.

Mereka tidak mengetahui bahwa agama dibangun di atas halal dan haram, perintah dan larangan, bukan dibangun di atas bukti. Penilaian mereka ini sama dengan orang yang menganggap meminum khomer dan makan dari hasil curian adalah baik karena terbukti mengenyangkan. Sungguh jauhnya penyimpangan mereka ini.

4. ) Sebagian orang menyebut ritual kesyirikan mereka dengan ziarah atau wisata, bukan berbuat kesyirikan.

Hal ini setali tiga uang bila dibandingkan dengan orang-orang terdahulu. Tidak ada bedanya. Orang –orang dahulu menamai kesyirikan mereka dengan pendekatan diri, mencintai wali, dan mencari syafa’at. Adapun sekarang, mereka menamai kesyirikan dengan istilah wisata atau ”ziarah”. Benarkah apa yang lakukan sebenarnya adalah wisata atau ziarah? Ternyata dengan tinjauan akal sehat, baik secara dunia maupun secara syar’i mereka tidak sekadar berwisata tidak juga sekadar berziarah.

Wisata atau pun ziarah yang bersifat keduniaan adalah pergi ke tempat-tempat seperti taman, gunung, pantai, dan semisalnya untuk bersenang – senang menikmati keindahan alam ciptaan Alloh, bukan ke kubur-kubur para wali. Adapun ziarah kubur secara syar’i adalah ziarah untuk memberi manfaat kepada mayit dengan mengucapkan salam dan mendo’akan keselamatan baginya. Sedangkan ziarah yang mereka lakukan itu adalah berangkat dari rumah dengan tujuan mencari barokah, menyakini bahwa wali dapat mendatangkan manfaat dan mudhorot, yakni manfaat bagi yang menghargai dan menyembahnya dan mudhorot bagi yang menghina dan tidak mengibadahinya. Jadi jelas berbeda dengan makna ziarah itu sendiri.

Mereka berangkat membawa sesuatu untuk dipersembahkan kepada kuburan wali. Apabila telah sampai disana, mereka meminum air keramat yang disiapkan di pintu gerbang masuk lokasi kuburan, lalu masuk dengan penuh khusyu’ dan khidnat seraya menundukkan kepala, mengharap, dan takut. Hati dan akal pikiran mereka sangat dekat dan tertuju kepada wali yang telah lapuk dan jauh dari Alloh. Dan apabila ia telah sampai pada kuburan yang dituju, ia melakukan sholat tahiat (penghormatan) terhadap kubur, ruku’, sujud, thowaf, mengusap-usap kuburan, mencium batu nisannya, berdo’a, meminta, berdzikir, membaca al-Quran, bernadzar, berkorban, dan lainnya. Mereka mendapati kenikmatan dan ketentraman dengan perbuatannya ini dibandingkan saat sholat menghadap Alloh. Dan apabila mereka telah selesai, mereka merasa telah melakukan amal sholih dan meraih pahala yang melimpah dan menganggap rugi orang yang mengabaikannya.

Lalu mereka pulang ke rumah membawa sesuatu dari kuburan berupa tanah atau sepotong kain tabir kuburan untuk tabarruk(mencari barokah). Mereka lebih memelihara ibadah ziarah syirik ini daripada memelihara sholat lima waktu dan hukum-hukum Alloh. Maka tidak mengherangkan jika ada diantara mereka yang tidak baik sholatnya, bahkan tidak sholat 5 waktu. Malah, mereka rutin ziarah meingguan, bulanan atau tahunan.

Jika ini yang dilakukan oleh para peziarah di kubur-kubur wali maka tidak diragukan lagi bahwa inilah kesyirikan yang tidak diampuni oleh Alloh dan bukan ziarah. Mereka merubah kata syirik dengan istilah ziarah sebagaimana sebagian manusia merubah kata riba’ dengan bunga, faedah, laba, anak uang , uang bertunas. Atau merubah musik dan nyanyian setan dengan hiburan, kesenian, siraman rohani, penyegar jiwa, dan lain-lain.

Oleh karena itu tugas utama para da’i dan penuntut ilmu adalah mencurahkan perhatian pada pemahaman kaum muslimin akan hakikat kesyirikan dan bahayanya terhadap diri seseorang dan agamanya. Dan apabila mereka diberi kekuasaan maka harus membersihkan bumi Alloh ini dari kesyirikan dan sarana-sarana.

Oleh : al-Ustadz Abdur Rohman al-Buthoni

Sumber : Majalah al-Mawaddah Edisi 9 Tahun Ke-2 :: Robi’ul Akhir 1430 H/ April 2009

Advertisements

3 Responses

  1. ah tidak sejauh itu. anda terlalu mendramatisir sebuah kejadian untuk membenarkan argumentasi anda

    apabila yang terjadi memang demikian tentunya anda sudah pernah terlbat secara aktif dalam praktek-praktek seperti itu

    kalau tidak, berarti anda telah menyebarkan fitnah. karena dalam prakteknya tidak demikan

    Jangan menyalahkan apa yang tidak kita ketahui dan jangan mengikuti apa-apa yang tidak difahami. kalau hanya menyampaikan apa-apa yang telah disampaikan orang lain tanpa bukti yang kongkrit itu namnay kebohongan.

    Sadarlah. jangan menyampaikan apa yang tidak kita fahami benar. Kalau anda dokter gigi jangan mengajarkan teori bedah tulang. ngak nyambung

  2. @myrazano

    Isi tulisan seseorang merefleksikan jati dirinya. Cukup bagi saya bahwa Anda belum paham ttg makna Tauhid itu sendiri (Lihat isi situs Anda!). Jadi komentar Anda thd tulisan di atas bukanlah suatu hal yang istimewa bg saya. Semoga apa yg saya smpaikan dibawah ini menggugah pemahaman Anda ttg Islam.

    ”apabila yang terjadi memang demikian tentunya anda sudah pernah terlbat secara aktif dalam praktek-praktek seperti itu”

    Maaf, ternyata logika Anda tidak jalan memahami tulisan itu. Seseorang memahami suatu kejadian tidak harus terlibat langsung kedalam kegiatan/ praktek tsb. Kebetulan saya seorang yang paham ttg observasi atau penelitian. Isi yg ada di tulisan tsb tidak lepas dr observasi langsung ke yg bersangkutan. Demikianlah memang seharusnya. Alhamdulillah kami memahami betul firman Allah Ta’ala surat Al Israa’ 36 : ” Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya…” Sehingga sampailah hal itu pd suatu kesimpulan sebgaimn isi tulisan tsb.

    Dan kaidah informasi/berita itu diterima manakala datang dari BUKAN orang fasiq, sbgaimana firman Allah Ta’ala dlm surat Al Hujuurat 6. Alhamdulillah penulis dan majalah al-Mawaddah –semoga Allah Ta’ala menjaga mereka semua- adalah BUKAN orang fasiq. Sehingga saya yakin untuk menampilkan di blog saya. Namun beda halnya dengan Anda (sekali lg cukuplah seseorang itu dilihat jatidirinya dari yang ia tulis)!

    “…yang kongkrit itu namnay kebohongan.”

    Kebohongan?? Justeru Anda-lah yang berdusta atas agama Islam ini!! Coba perhatikan isi tulisan situs Anda. Islam BUKAN dipahami dg pemahaman logika mas! Tapi dengan DALIL / HUJJAH dari al Quran dan Sunnah Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam berdasarkan pemahaman para shahabat Rasulullah (Lihat surat At Taubah 100). Kalo Tauhid dipahami oleh logika tiap orang, maka orang kafirpun punya hujjah logika bahwasannya Tuhan itu punya anak, karena logika mereka mengatakan demikian. Kedua : Motto Anda yg mengatakan ”Mengenal Allah dengan logika”,sekali lagi, orang kafirpun akan memahami bahwa Tuhan itu ada punya anak berdasarkan logika. Maka tidak seharusnya orang Islam demikian pola pemahamannya. Kalo mau mengenal Allah Ta’ala pakailah dalil/hujjah dari al Quran dan Hadits Rasulullah BUKAN LOGIKA! Kita mengenal Allah Ta’ala melalui tanda2 kekuasaan dan ciptaan-Nya (Lihat surat Fushshilat: 37)

    Misi : ”…basis tariqat satariyah dan didukung dengan pemahaman tariqat naqsabandiyah…”. Demi Allah Ta’ala, Islam yang dibawa oleh Rasulullah dan para shahabatnya tidak mengenal apa itu satariyah dan naqsabandiyah!! Jadi penamaan itu adalah bid’ah (hal baru dalam agama). Dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. (HR. Muslim dan Nasa’i)

    Islam itu rahmatal lil ’alamin mas! Sudah tidak sepantasnya ajaran Islam itu untuk orang2/kelompok tertentu. Wong dakwah Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam aja tidak terbatas pada kaum tertentu, malah Anda dgn pede-nya mngatakan bahwa ajaran Islam dipelajari secara exclusive dan terbatas pada kelompok tertentu saja seperti misi dakwah yg tertulis dalam situs Anda. Na’udzubillah! Coba lihat surat Al Anbiyaa’ 107, sama gak misi dakwah Rasulullah dengan misi dakwah kelompok Anda itu!!

    ”Kalau anda dokter gigi jangan mengajarkan teori bedah tulang. ngak nyambung”.

    Anda benar sekali mengatakan demikian, namun sayang sekali Anda tidak melihat pd diri Anda sendiri. Kalo Anda orang yang berpemahaman bid’ah dalam memahami Islam yaitu tariqat satariyah dan naqsabandiyah, maka JANGAN menyebarluaskan /mengajarkan AJARAN & PEMAHAMAN ISLAM yg tidak ada contohnya dari Rasulullah dan para shahabatnya, ngak nyambung!! Ajaran Islam Rasulullah dan para shahabat TIDAK SAMA mas sama ajaran tariqat satariyah dan naqsabandiyah!! Dan pemahaman ajaran Islam tariqat satariyah dan naqsabandiyah GAK NYAMBUNG dengan ajaran dan pemahaman orang2 terbaik yaitu para shahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam!! Ingat itu!

  3. Saya sangat mendukung tulisan yg ada di blog ini. Teruslah berdakwah ya Mas jgn pernah lelah. Hidupkan Tauhid yg murni,di tanah air kita ini fenomena syirik pd kuburan orang2 sholeh sudah mengakar,kelewatan dan sangat memprihatinkan. Ya Allah..hanya kpda Engkau sajalah hamba berserah diri..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: