Sejarah Syirik Dari Masa ke Masa

jam waktu

jam waktu

Ibnu Abbas dan Ikrimah radliyallahu’anhuma mengatakan: “Antara Adam ‘alaihissalam dan Nuh ‘alaihissalam sejauh sepuluh generasi, seluruhnya di atas Islam(tauhid)”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Ath Thabari atas surat Al Baqarah [213]).

Al Imam Ibnu Qayyim rahimahulloh mengatakan: “Perkataan ini adalah benar secara pasti, menurut Qiro’ah Ubay bin Ka’ab, yaitu pada surat al Baqarah[213]:…kemudian mereka berselisih, maka Alloh Ta’ala mengutus kepada mereka para Nabi”. (Ighotsatul Lahfan 2/102).

Namun, jiwa ini telah dirusak fitrohnya oleh setan dari jenis Jin dan manusia yang sebagiannya membisikkan kepada sebagian yang lain tentang janji-janji palsu dan tipuan belaka. Sehingga terjadilah penyimpangan dari tauhid dan merebaklah kesyirikan untuk pertama kalinya pada suatu kaum yang kemudian Alloh Ta’ala mengutus Nabi Nuh ‘alaihissalam kepada mereka. Beliau diutus sebagai rasul pertama kepada manusia setelah terjadinya kesyirikan untuk mengembalikan tauhid dan menghancurkan syirik yang telah menodai agama tauhid yang telah diwariskan oleh Nabi Adam‘alaihissalam dan telah berjalan dari generasi ke generasi.Adapun bangsa Arab, mereka menetapi agama nenek moyang mereka, Ibrohim ‘alaihissalam. Sampai pada suatu saat, datanglah Amrun bin Luhai al-Khoza’i mengubah agama Nabi Ibrohim‘alaihissalam. Ia datang membawa berhala ke bumi Arab, yaitu ke negeri Hijaz. Sampai pada akhirnya berhala itu pun disembah sebagai tandingan Alloh Ta’ala, sehingga tersebar luaslah kesyirikan di negeri yang disucikan tersebut sampai merambah ke negeri yang disucikan tersebut sampai merambah ke negeri tetangga kanan-kirinya. Begitu seterusnya, sampai terakhir untuk menyeru mereka agar kembali ke jalan tauhid dan mengikuti agama Nabi Ibrohim ‘alaihissalam.

POLA PIKIR YANG HARUS DILURUSKAN

Kebanyakan manusia yang melakukan kesyirikan telah terjebak dalam kubangan bisikan-bisikan setan. Akibatnya, mereka mengira bahwa apa yang mereka lakukan justeru sebagai bentuk pengagungan bagi Alloh Ta’ala, dimana sebab keagungan-Nya tersebut maka tidak selayaknya seorang hamba mendatangi-Nya begitu saja tanpa perantara-perantara atau pemberi syafa’at. Yang demikian itu sebab mereka menyangka bahwa keberadaan Alloh Ta’ala di hadapan para hamba adalah seperti kewibawaan seorang raja di hadapan rakyat jelata. Mereka menyangka dengan menyembah perantara-perantara tersebut maka mereka akan didekatkan kapada Alloh Ta’ala dan ditunjukkan kepada jalan-Nya sehingga  kemudian akan bisa sampai kepada-Nya.

Perhatikanlah apa yang telah dihembuskan oleh setan ke dalam benak mereka. Pemikiran seperti inilah yang menjadikan merka merasa aman dari kesyirikan yang lekat dengannya. Iyadzan billah.

Maka perhatikanlah masalah ini! Satukan hati daan akal untuk mendapatkan jawabannya, dan jangan sekali-kali perhatian kita terpalingkan dari masalah ini. Sesungguhnya dengan jawaban atas pemikiran tersebut maka akan didapati perbedaan antara orang-orang musyrik dan muwahhid, antara orang-orang mengetahui Alloh Ta’ala dan yang tidak mengetahui-Nya, dan antara ahli Surga dan ahli Neraka.

Dikutip dari Majalah al- Mawaddah Romadhon-Syawwal 1429 H/September-Oktober 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: