Sikap Salafiyyin terhadap Zionist Salibis

zionis

bendera zionis

Berkata Penanya :
Saya mendapat informasi website ini dari kawan di internet. ada satu permasalahan yang ingin saya utarakan. mengapa selama ini orang2 salaf yang katanya selalu mengikuti tuntunan Rasul mendukung pemerintahan Arab Saudi yang kita ketahui dalam sikap politik nya sangat mendukung amerika dan langkah2 yang dilakukan sering menyakiti hati umat Islam. Contoh seperti kasus hamas-fatah dimana pemerintah saudi mendukung fatah yg pro israel, masalah lebanon yg kemudian mengatakan bahwa hezbolla tidak boleh dibantu karena syiah walaupun hezbolla berjuang untuk rakyat lebanon (saya adalah muslim sunni) dan satu lagi permasalahan Iraq dmn arab saudi juga ikut memboikot saddam, sejahat apapun saddam dia muslim dan satu lagi kejahatan dia tidak ada apa2nya dibanding amerika dan zionist israel. tapi apa yang dilakukan oleh madzhab salaf, mereka selalu mendukung pemerintah arab saudi walaupun pemerintah saudi terlalu pengecut untuk membantu umat islam dan sangat membantu amerika secara langsung dan israel secara tidak langsung dalam mencapai tujuan2 jahat nya. semoga hal ini bisa menjadi pertimbangan teman-teman ku di kalangan salaf akan suatu kebenaran.

Satu hal lagi, Nabi mengajarkan siapa yang menjadi khalifah diliat dari akhlak dan taqwanya bukan karena dia keturunan raja, itu sudah jelas. tapi mengapa hal yg jelas ini tidak dapat memberanikan diri bagi kalian untuk merubah tuntunan kehidupan bernegara di saudi dan negeri arab sekitarnya. saya tahu, wahabi dan salaf punya pengaruh yang cukup besar di saudi dan sekitarnya.

Wassalamualaikum

 

Jawab:

Saudara penanya semoga Allah membimbing anda ke jalan yang diridhoiNya, dakwah Salafiyyah itu tidak ada kaitannya dengan pemerintah manapun dan tidak ada kaitannya pula dengan partai politik apapun. Dakwah Salafiyyah mengajak umat Islam, bahkan seluruh ummat manusia untuk memahami, mengimani, dan mengamalkan agama Islam sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam beserta para Shahabatnya. Dakwah Salafiyyah adalah satu-satunya bentuk pengamalan perjuangan Islam yang benar, dengan merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah yang mengacu kepada para Shahabat Nabi dan Tabi’in.

Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang menjadi pijakan perjuangan dakwah Salafiyyah, selalu mengedepankan sikap adil dan ilmiah. Sedangkan sikap adil itu adalah sikap yang tidak dipengaruhi oleh hawa nafsu kecintaan dan atau kebencian kepada seseorang atau sekelompok orang, sedangkan sikap ilmiah adalah kepastian berita dari sumber yang diyakini kejujuran dan kebenarannya dalam menyampaikan berita, dengan dikontrol oleh Al Qur’an serta As Sunnah. Sedangkan dakwah-dakwah yang lainnya selalu dipengaruhi oleh hawa nafsu hizbiyyah yang melihat segala perkara dengan ukuran cinta dan benci kepada hizb-nya atau terhadap lawan hizb-nya. Sehingga tidak mementingkan sisi ilmiah dalam menghukumi sesuatu masalah, padahal di zaman ini amat sedikit orang yang jujur dalam menyampaikan berita. Akibatnya gerakan-gerakan dakwah hizbiyyah cenderung mendzolimi kawan dan lawan dalam banyak hal, dan ditunggangi oleh berbagai kepentingan musuh-musuh Islam atau para oportunis munafiqin yang ingin menjual belikan Islam dengan harga yang murah.

Dakwah Salafiyyah tidak bisa digiring oleh opini publik yang dikendalikan oleh mass media zionist dan salibis. Karena manhaj salaf amat ketat dalam menyaring berita dan menelitinya sampai pada tingkat yang sangat meyakinkan. Sedangkan publik opini yang digerakkan oleh zionist salibis , amat rendah tingkat akurasinya dihadapan ketentuan-ketentuan penyaringan berita yang diletakkan oleh manhaj Salaf. Itulah sebabnya dakwah Salafiyah tidak mau ikut-ikutan dengan arus berita mass media zionist salibis yang mengelu-elukan gerombolan Rofidhoh Hizbus Syaithan yang menamakan dirinya dengan Hizbullah, ketika mass media menampilkan gerombolan tersebut sebagai lambang perlawanan terhadap Israel, padahal Israel dan gerombolan tersebut kalau dibedah anatomi pemikirannya dan keyakinannya adalah setali tiga uang . Kondisi sekarang yang menampilkan gerombolan-gerombolan Hizbussyaithan ini sama dengan kondisi tahun 1979 yang pada waktu itu mass media zionist salibis menampilkan Khumaini dengan Revolusi Rofidhohnya sebagai lambang perlawanan terhadap hegemoni Amerika Serikat, padahal kebencian Khumaini terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, sama saja dengan kebencian Yahudi dan Nashoro terhadap keduanya, hanya saja gerakan Khumaini lebih berbahaya terhadap Islam dan Muslimin daripada Yahudi dan Nashoro. Karena Khumaini memakai bendera Islam dalam memerangi Al Qur’an dan As Sunnah.

Demikian pula gerakan Hamas yang ada di Palestina, sesungguhnya sama sekulernya dengan gerakan Al Fattah. Kedua-duanya sama-sama berjuang untuk mencapai kekuasaan dibumi Palestina, dan kedua-duanya sekarang memegang pemerintahan disana. Kedua partai tersebut dalam menjalankan pemerintahan sama-sama sepakat untuk tidak menjalankan Syari’ah Islamiyah dalam pemerintahannya, tentu dengan alasan masing-masing. Tetapi Al Fattah lebih realistis daripada Hamas dalam perjuangannya untuk masa depan berdirinya negara Palestina dibanding dengan Hamas. Karena Al Fattah yang sekuler itu mempertimbangkan realita kelemahan bangsa Palestina dalam menghadapi kekuatan Israel yang didukung oleh hegemoni zionist dan salibis dunia. Adapun Hamas, tidak peduli dengan penderitaan rakyat Palestina yang di akibatkan oleh manuver-manuver politiknya yang sama sekali tidak logis dalam mempertimbangkan maslahat dan mafsadah kepentingan kaum Muslimin di Palestina. Karena memang Hamas hanya bisa mempertahankan eksistensinya dengan menjual isu-isu politik yang terkesan heroik dan bisa menyentuh emosi keagamaan kaum Muslimin didunia dan khususnya di Palestina. Harga yang harus dibayar oleh kaum Muslimin di Palestina untuk mendukung manuver politik Hamas itu adalah pembunuhan rakyat, penghancuran kampung-kampung mereka, kelaparan dan kesengsaraan serta buruknya pelayanan kesehatan untuk mereka sehingga memaksa mereka untuk meninggalkan bumi Palestina karena kehancuran fasilitas hidup disana. Maka kalau kita menengok kenyataan tersebut diatas dimana pengorbanan nyawa dan harta kaum Muslimin didunia dan khususnya di Palestina, hanya untuk membela eksistensi Hamas dan sama sekali bukan untuk membela tegaknya syari’at Islam dibumi Palestina. Itulah sebabnya manhaj Salaf tidak mau ikut-ikutan dengan opini yang telah terbentuk didunia Islam yang menjadikan Hamas sebagai lambang perjuangan Islam di Palestina. Karena realita dilapangan justru menunjukkan sebaliknya, yaitu Hamas menjadi gerakan yang mengorbankan jiwa dan raga ummat Islam demi kepentingan hizb-nya.

Isu-isu politik yang lainnya seperti upaya penggiringan publik opini didunia Islam, untuk menilai pemerintah Saudi sebagai antek Amerika dan menganggap pemerintah Saudi tidak pernah mempunyai kontribusi untuk kepentingan ummat Islam dunia. Ini adalah kedzoliman berikutnya yang digerakkan oleh mass media zionist salibis dan didukung oleh gerombolan-gerombolan hizbiyyah semacam Ikhwanul Muslimin dan atau gerakan-gerakan Thoriqot Shufiyyah serta gerakan yang mengacu kepada pemahaman Mu’tazilah semacam Hizbut Tahrir dan lain-lainnya. Padahal pemerintah Saudi dengan berbagai kekurangannya adalah satu-satunya negara didunia yang mempunyai konstitusi kenegaraan yang merujuk kepada kemurnian Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga tidak ada seorang pejabat pun di Saudi dari kalangan non Muslim, dan tidak ada tempat ibadah dari kalangan non Muslim yang boleh berdiri ditempat umum diseluruh wilayah Saudi. Hukum yang berlaku juga adalah hukum Islam, dan satu-satunya negara yang mewajibkan penduduknya untuk menunaikan sholat lima waktu di masjid. Jihad di Afghanistan dulu dan sekarang di biayai oleh bangsa dan negara Saudi ‘Arabiya, donatur terbesar untuk pemerintahan Hamas di Palestina ketika di boikot oleh Barat dan Israel , adalah Saudi ‘Arabiya. Donatur terbesar perjuangan kaum Muslimin Ahlus Sunnah di Irak melawan Amerika Serikat adalah bangsa dan negara Saudi ‘Arabiya. Donatur terbesar untuk kepentingan pertolongan bagi daerah-daerah muslimin yang terkena bencana termasuk Tsunami di Aceh adalah bangsa dan negara Saudi ‘Arabiya. Bahkan ketika gerombolan Hamas dan Al Fattah berperang sesama mereka didepan rakyat Palestina dengan mengorbankan jiwa dan raga rakyat Palestina, tidak ada pemerintahan manapun didunia yang mendamaikan mereka kecuali pemerintah Saudi ‘Arabiya yakni dengan di undangnya kedua kelompok tersebut di Istana Raja Saudi ‘Arabiya di Jabal Qubays Makkah.

Kedatangan perwakilan dua kelompok tersebut dari Palestina ke Makkah dan dari Makkah ke Palestina dengan segenap fasilitasnya, ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Saudi ‘Arabiya, dan menghasilkan persatuan kembali bangsa Palestina. Ketika pemerintah G.W Bush memaksakan sistem politik demokratisme kepada dunia Islam, maka satu-satunya pemerintah yang berani menentangnya adalah pemerintah Saudi ‘Arabiya, belum lagi sumbangan Saudi ‘Arabiya untuk pendidikan Islam didunia Islam.  Dan juga bantuan atas Palestina saat ini oleh Saudi ‘Arabia adalah yang terbesar (tambahan pengelola blog). Semua itu harus di nafikan dan harus dianggap tidak ada oleh orang-orang yang sudah teracuni penyakit hizbiyyah, sehingga cenderung bersikap dzolim dan tidak mempunyai sikap adil dalam menilai permasalahan. Hanya karena pemerintah Saudi ‘Arabiya menentang kejahatan Saddam Husain ketika memerintah, atau hanya karena pemerintah Saudi ‘Arabiya tidak selalu sejalan dengan pemikiran para politikus gadungan yang bermental oportunis, dan menampilkan isu-isu ke-Islaman demi kepentingan pribadinya atau kepentingan hizb-nya.

Adapun bentuk pemerintahan kerajaan dengan sistem pengangkatan kepala negara berdasarkan turun temurun dari bapak kepada anak atau dari kakak kepada adik, memang sistem politik yang demikian sangat bertentangan dengan agama demokratisme. Ketika tidak menerapkan sistem dan jalur demokratisme dalam proses pengangkatan kepala negara itu, meskipun keluarga tersebut mempunyai keahlian politik dan keahlian kepemimpinan kenegaraan yang telah teruji berpuluh-puluh tahun bahkan hampir beratus tahun, dan sistem pemerintahan demikian telah berhasil memakmurkan dan mensejahterakan rakyat Saudi ‘Arabiya. Namun sistem pemerintahan demikian dianggap dzolim oleh agama demokratisme. Tapi kalau pemerintahan itu di jalankan dengan turun temurun dari bapak kepada anak dengan menjalankan sistem politik demokratisme seperti di Amerika Serikat, dimana George Bush senior menurunkan kekuasaannya kepada G.W Bush junior, atau seperti di Singapore dimana Lee Kwan Yu menurunkan kekuasaannya kepada putranya, dan seperti di India dimana perdana menteri Jawaharlal Nehru yang mewariskan kekuasaanya kepada putrinya yang bernama Indi Ragandi dan Indi Ragandi mewariskan kepada putranya yang bernama Rajif Gandhi, maka yang demikian itu tetap di anggap baik dan bagus atau di anggap adil karena dijalankan pewarisan tahta kekuasaan itu dengan sistem demokratisme.

Demikianlah betapa tidak konsistennya teori demokratisme itu, bila dijadikan sebagai barometer untuk menilai baik dan buruknya satu pemerintahan. Adapun menurut pandangan Islam, sistem pemindahan kekuasaan dari bapak kepada anak atau dari kakak kepada adik atau dari kalangan keluarga adalah perkara yang sah dan tidak salah, selama pemindahan kekuasaan itu diberikan kepada orang ahlinya dan tidak diberikan kepada orang yang tidak ahli dalam memimpin negara itu. Maka kita melihat bahwa Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam mewariskan kekuasaan sepeninggal beliau kepada mertua beliau yaitu Abu Bakr Ash-Shiddiq, dan sepeninggal Abu Bakr Ash-Shidiq di wariskan kekuasaan itu kepada mertua Rasulullaah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang lainnya yaitu Umar bin Al Khoththob dan sepeninggal Umar kekuasaan di wariskan kepada menantu Rasulullaah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu ‘Utsman bin ‘Affan dan sepeninggal ‘Utsman kekuasaan di wariskan kepada menantu dan saudara misan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu ‘Ali bin Abi Thalib, sepeninggal ‘Ali kekuasaan di wariskan kepada putra beliau yaitu Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, yang memegang kekuasaan hanya selama 4 bulan. Kemudian diserahkan kekuasaan itu kepada saudara ipar Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan begitu selanjutnya. Semua itu tidak menjadi masalah dalam pandangan Islam, selama orang yang diserahi kepemimpinan negara dan bangsa itu mempunyai keahlian yang cukup dalam menjalankan amanah kekuasaannya.

Demikianlah sunnah Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah para Salafus Sholih dalam memandang segala permasalahan termasuk berbagai isu politik nasional dan internasional. Dimana pandangan sunnah tersebut selalu mengedapankan sikap adil dan jauh dari pengaruh hawa nafsu serta ilmiah, dengan memastikan segala informasi itu dari sumber-sumber berita yang terpercaya. Tentu sistem pandangan demikian melawan arus penggiringan opini yang cenderung kepada kedzoliman, kerancuan dan kedustaan serta kepalsuan. Makanya pandangan-pandangan seperti ini sering mengagetkan banyak orang, karena memang kebanyakan orang tenggelam dalam banjir informasi yang arusnya dikendalikan oleh zionist dan salibis.


Al Ustadz Ja’far Umar Thalib

diambil dari http://alghuroba.org/index.php?read=77



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: