Golput Tidak Haram!!!

golput

stop golput!

Ya, itulah judul yang mungkin tepat untuk menggambarkan fenomena pengharaman golput(golongan putih) saat ini di negeri kita. Beberapa tokoh politik Islam berusaha “menekan” MUI untuk mengeluarkan fatwa atas haramnya golput dalam pemilu. Mereka menilai bahwa golput telah melanggar hukum Islam, demikianlah yang distatemenkan oleh tokoh politik Islam seperti dilansir oleh detiknews.com selasa 16 Desember 2008. Penentuan haram tidaknya sesuatu jika dipandang dari sisi agama Islam maka akan melahirkan konsekuensi logis di dalamnya. Demikian juga yang mengatakan bahwa golput telah melanggar hukum Islam. Jadi mau tidak mau, orang yang golput telah menerima konsekuensi berupa dosa dikarenakan golputnya. Nah, pertanyaannya sekarang, apakah benar Islam memandang orang yang golput adalah haram dengan asumsi kondisi perpolitikan di negeri kita saat ini?

KH. Hasyim Muzadi mengatakan bahwa, golput ada 2 macam yaitu golongan yang meniadakan pemilu dan kedua golongan karena malas (malas ikut pemilu-pent) (detiknews.com). Untuk pihak golongan yang meniadakan pemilu, maka bisa jadi dikarenakan bahwa orang – orang tersebut memahami hukum demokrasi dalam pemilu itu sendiri adalah bertentangan dengan syariat Islam atau bisa jadi karena pihak dari salah satu atau lebih yang ‘merasa’ akan kalah dalam pemilu menyerukan pengikutnya untuk memboikot pemilu tahun depan. Jika golongan yang karena malas ikut pemilu, penulis setuju dengan KH. Hasyim Muzadi bahwa pemilunya-lah yang harus intropeksi (detiknews.com). Sebelumnya juga, Hidayat Nurwahid ketua MPR menyerukan agar dibuat fatwa bersama antara MUI, NU dan Muhammadiyah untuk mengharamkan Golput. Menurutnya, fatwa itu diperlukan karena saat ini banyak masyarakat yang apatis terhadap pemilu (detiknews.com)

Tulisan ini tidaklah berbicara terlalu dalam tentang perpolitikan yang sedang atau telah terjadi di negeri kita ini. Namun, tulisan ini mencoba berbicara al Haq yang musti tiap mukmin menjalankannya sesuai kemampuannya.

Ikhwafillah rahimakumullah, tidaklah Islam setelah sepeninggalan Rasulullah Shalallahu’alaihissalam melainkan telah sempurna syariat Allah Azza wa Jalla. Jadi manakala ada pihak yang mengklaim suatu perbuatan mendapat konsekuensi haram atau pahala maka perlu mendatangkan dalilnya. Tidak syak lagi bahwa catur perpolitikan kita saat ini telah mengadopsi metode perpolitikan kaum kuffar. Kaum muslimin telah dengan ‘ikhlas’ ikut menjadi pion-pion penegakan asas demokrasi di dunia percaturan politik negeri kita ini. Demikian juga dengan pemilu, coba kita perhatikan bersama, kita mengenal makna demokrasi sejak kita kecil sampai dewasa ini kita sepakat mengatakan bahwa demokrasi adalah pemerintahan rakyat (dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat). Rakyat pemegang kekuasaan mutlak. Tentu hal ini bertentangan dengan syariat Islam. Allah berfirman dalam surat Al ‘An’am 57:

“Artinya : Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah”

Atau surat Al Maidah 44 :
“Artinya : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir”

Atau surat Asy Syura 21 :
“Artinya : Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak dizinkan Allah ?”

Atau surat An Nisaa’ 65 :
“Artinya : Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan”

Atau surat Al Kahfi 26 :
“Artinya : Dan dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutuNya dalam menetapkan keputusan”

Sebab demokrasi merupakan undang-undang thagut, padahal kita diperintahkan agar mengingkarinya, firmanNya.

“Artinya : (Oleh karena itu) barangsiapa yang mengingkari thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul (tali) yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” [Al-Baqarah : 256]

“Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhi thagut itu” [An-Nahl : 36]

“Artinya : Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al-Kitab ? Mereka percaya kepada jibt dan thagut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman” [An-Nisa : 51]

Nah, bagaimana bisa pemilu yang merupakan anak kandung demokrasi bisa menyebabkan pelakunya yang tidak mengikutinya dikatakan berdosa/haram??

Justeru mereka-yang paham akan hukum sistem demokrasi- lah yang berpahala di sisi Allah Azza wa Jalla karena telah menjalankan syariat Allah dan Rasul-Nya untuk tidak mengikuti cara-cara kaum kuffar didalam bernegara. Untuk lebih jelasnya tentang bobroknya sistem demokrasi dan pemilu bila dipandang dari segi Islam, ada baiknya kita membaca buku ini.

Kemudian, bagaimana pula para Ulama di dalam berpendapat tentang Demokrasi dan Pemilu. Berikut adalah penggalan fatwa Asy Syaikh Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan Syaikh Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I rahimakumullah.

DEMOKRASI BERLAWANAN DENGAN ISLAM, TIDAK AKAN MENYATU SELAMANYA.

Oleh karena itu hanya ada dua pilihan, beriman kepada Allah dan berhukum dengan hukumNya atau beriman kepada thagut dan berhukum dengan hukumnya. Setiap yang menyelisihi syari’at Allah pasti berasal dari thagut.

Adapun orang-orang yang berupaya menggolongkan demokrasi ke dalam sistem syura, pendapatnya tidak bisa diterima, sebab sistem syura itu teruntuk sesuatu hal yang belum ada nash (dalilnya) dan merupakan hak Ahli Halli wal Aqdi [1] yang anggotanya para ulama yang wara’ (bersih dari segala pamrih). Demokrasi sangat berbeda dengan system syura seperti telah dijelaskan di muka.

BERSERIKAT

Merupakan bagian dari demokrasi, serikat ini ada dua macam :

[a] Serikat dalam politik (partai) dan,
[b] Serikat dalam pemikiran.

Maksud serikat pemikiran adalah manusia berada dalam naungan sistem demokrasi, mereka memiliki kebebasan untuk memeluk keyakinan apa saja sekehendaknya. Mereka bebas untuk keluar dari Islam (murtad), beralih agama menjadi yahudi, nasrani, atheis (anti tuhan), sosialis, atau sekuler. Sejatinya ini adalah kemurtadan yang nyata.

Allah berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang yahudi) ; ‘Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan’, sedang Allah mengetahui rahasia mereka” [Muhammad : 25]

“Artinya : Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” [Al-Baqarah : 217]

Adapun serikat politik (partai politik) maka membuka peluang bagi semua golongan untuk menguasai kaum muslimin dengan cara pemilu tanpa mempedulikan pemikiran dan keyakinan mereka, berarti penyamaan antara muslim dan non muslim.

Hal ini jelas-jelas menyelisihi dali-dalil qath’i (absolut) yang melarang kaum muslimin menyerahkan kepemimpinan kepada selain mereka.

Allah berfirman.

“Artinya : Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman” [An-Nisa : 141]

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu” [An-Nisa : 59]

“Artinya : Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian) ; bagaimanakah kamu mengambil keputusan ? [Al-Qolam : 35-36]

Karena serikat (bergolong-golongan) itu menyebabkan perpecahan dan perselisihan, lantaran itu mereka pasti mendapat adzab Allah. Allah memfirmankan.

“Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” [Ali-Imran : 105]

Mereka juga pasti mendapatkan bara’ dari Allah (Allah berlepas diri dari mereka). FirmanNya.

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamaNya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka” [Al-An’am : 159]

Siapapun yang beranggapan bahwa berserikat ini hanya dalam program saja bukan dalam sistem atau disamakan dengan perbedaan madzhab fikih diantara ulama maka realita yang terpampang di hadapan kita membantahnya. Sebab program setiap partai muncul dari pemikiran dan aqidah mereka. Program sosialisme berangkat dari pemikiran dasar sosialisme, sekularisme berangkat dari dasar-dasar demokrasi, begitu seterusnya.

PEMILIHAN UMUM

Termasuk sistem demokrasi pula, oleh karena itu diharamkan, sebab orang yang dipilih dan yang memilih untuk memegang kepemimpinan umum atau khusus tidak disyaratkan memenuhi syarat-syarat yang sesuai syari’at. Metode ini memberi peluang kepada orang yang tidak berhak memegang kepemimpinan untuk memegangnya. Karena tujuan dari orang yang dipilih tersebut adalah duduk di dewan pembuat undang-undang (Legislatif) yang mana dewan ini tidak memakai hukum Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun yang jadi hukum adalah ‘Suara Mayoritas”. Ini adalah dewan thagut, tidak boleh diakui, apalagi berupaya untuk menggagas dan bekerjasama untuk membentuknya. Sebab dewan ini memerangi hukum Allah dan merupakan sistem barat, produk yahudi dan nashara, oleh karena itu tidak boleh meniru mereka.

Bila ada yang membantah : “Sebab di dalam syari’at Islam tidak terdapat metode tertentu untuk memilih pemimpin, lantaran itu pemilu tidak dilarang”

Jawabannya : Pendapat tersebut tidak benar, sebab para sahabat telah menerapkan metode tersebut dalam memilih pemimpin dan ini merupakan metode syar’i. Adapun metode yang ditempuh partai-partai politik, tidak memiliki patokan-patokan pasti, ini sudah cukup sebagai larangan bagi metode itu, akibatnya orang non muslim berpeluang memimpin kaum muslimin, tidak ada seorangpun dari kalangan ahli fikih yang membolehkan hal itu.

Disalin sebagian dari [Dialih bahasakan dari Majalah Al-Ashalah, edisi 2 Jumadil Akhir 1413H, oleh Abu Nuaim Al-Atsari, Disalin ulang dari Majalah Al-Furqon, edisi 7/Th III. Hal.39-43]
_________
Foote Note.
[1] Ahlu Halli wal Aqdi tersusun dari dua kata Al-Hillu dan Al-Aqdu. Al-Hillu berarti penguraian, pelepasan, pembebasan dll. Sedang Al-Aqdu berarti pengikatan, penyimpulan, perjanjian dll. Maksudnya yaitu semacam dewan yang menentukan undang-undang yang mengatur urusan kaum muslimin, perpolitikan, manajemen, pembuatan undang-undang, kehakiman dan semisalnya. Semua hal tersebut suatu saat bisa direvisi lagi dan disusun yang baru [Lihat kitab Ahlu Halli wal Aqdi, Sifatuhum wa Wadha’ifuhum. Dr Abdullah bin Ibrahim At-Thoriqi, Rabithah Alam Islami, -pent]

>> Kalau mau tahu  lengkap tentang kebobrokan Demokrasi dan Pemilu silahkan donlot disini

Advertisements

12 Responses

  1. Barangkali, dinegeri kita ini sudah banyak yang ngaji di pengajian yang mengajarkan al-Quran dan as-Sunnah menurut pemahaman salafus sholeh…..jadi dah banyak yang ngerti bahwa demokrasi bukan dari Islam dan mereka semua paham bobroknya sistem ini yang semakin hari semakin tidak jelas arahnya.

    Namun demikian….kita sebagai rakyat biasa bukan berarti apatis terhadap kesejahteraan ummat negeri yang kita cintai ini, kita tetap mengusahakan bagaimana negeri ini makmur, aman, sejahtera, angka kemiskinan berkurang dan masalah sosial lainnya melalui apa yang kita punyai dan sanggupi….kan tidak harus melalui politik praktis yang justru lewat situ akan menjadikan kita haus kekuasaan dan kedudukan dan memang berpotensi untuk itu.

  2. banyak yang menilai terhadap orang yang berpartai tidak mengindahkan kaidah islam. saya orang awam dan bukan ustadz. tetapi saya tahu persis jika seorang menghina sekelompok islam itu bisa dapat dikategorikan munafik. kalau mau jujur lebih jahat mana berpartai islam atau mengkudeta kekhalifaan. jawaban ada di dalam diri kita masing-masing.

  3. @forlan

    banyak yang menilai terhadap orang yang berpartai tidak mengindahkan kaidah islam

    alhamdulillah…penilaian anda tepat sekali mas forlan. Memank banyak orang2 yang berpartai tidak mengindahkan kaidah Islam. Saya setuju banget itu. Oke saya akan beri satu contoh dalilnya dalam surat Ar Ruum 32, Tuhan kita Allah Ta’ala berfirman : “yaitu orang-orang yang MEMECAH-BELAH agama mereka dan mereka menjadi BEBERAPA GOLONGAN. Tiap-tiap golongan merasa BANGGA dengan apa yang ada pada golongan mereka”.
    saya kira mas forlan sudah tahu kok dalil tersebut.

    saya orang awam dan bukan ustadz. tetapi saya tahu persis jika seorang menghina sekelompok islam itu bisa dapat dikategorikan munafik.

    Wah kalo gitu sama donk mas, saya jg orang awam yang masih belajar, apalagi klo dikatakan ustadz. Tapi saya tau persis kalo ciri orang munafik itu salah satunya adalah TIDAK AMANAH. Nah, coba mas forlan lihat partai2 sekarang…Sudah amanah-kah mereka? Lebih2 kepada Allah Ta’la dan Rasul-Nya?

    kalau mau jujur lebih jahat mana berpartai islam atau mengkudeta kekhalifaan

    Jujur mas, saya tidak pilih keduanya karena Islam memank melarang. Untuk partai dallilnya yg diatas tad surat Ar RUum 32. Nah kalo mengkudeta kekhalifahan(mgkn maksud mas forlan penguasa/pemerintah) dalilnya yg melarang adlah hadist Nabi kita Shalallahu’alahissalam yakni:”barangsiapa yang melihat dari penguasanya suatu hal yang TIDAK DISUKAI, maka BERSABARLAH! Karena barangsiapa yg memisahkan diri dari Jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati dengan mati Jahiliyyah.”(HR. Bukhari- Muslim dalam Shahihnya)

  4. bila kita tidak setuju demokrasi atau pemilu, itu hak kita.
    Ya Allah, tapi mudah-mudahan kita bukan termasuk orang munafik. Yang secara gak sadar mengakui produk demokrasi. tandatangan pejabat di KTP kita atau surat-surat penting yang kita punyai adalah produk dari negara yang menerapkan sistem demokrasi ini. (dan mudah-mudahan kita tidak berlindung di balik istilah darurat), karena nyata-nyata kita sadar atau gak sadar memanfaatkan produk demokrasi yang kita tolak dalam keseharian kita.

  5. Menjadi tergesa-gesa dalam beramal dan cepat dalam menghakimi sesama muslim sangat bertentangan dengan QS Al Fath : 29. Kalau sudah faham dengan ayat tersebut, bersegera buka QS Al Anfal : 46.

    Kalau ternyata masih memandang pemikiran sendiri sebagai yang paling benar, maka Ya Allah…jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bershabar.

    Kalau ternyata masih juga menganggap diri sendiri dan kelompoknya sebagai yang paling benar di muka bumi ini, sehingga dengan sangat mudahnya menganggap muslim yang lain salah dengan menjadikan dalil sebagai alat perdebatan untuk mempertahankan hujjah ashobiyyah, maka Allahummaghfirlanaa dzunuubanaa wa israfanaa fii amrinaa wa tsabbits aqdamanaa wanshurna ‘alal qaumil kaafiriin, wanshurna ‘alal qaumil faasiqiin, wanshurna ‘alal qaumidz Dzhaalimiin.

  6. “DEMOKRASI BERLAWANAN DENGAN ISLAM, TIDAK AKAN MENYATU SELAMANYA.”

    Sebagaimana sistem kerajaan yang tidak pernah diajarkan dalam Islam. Padahal sistem kerajaan adalah sistem yang memperturutkan hawa nafsu, karena pemerintahannya adalah turun-temurun.

    Di Saudi, kenapa Ulama Salaf tidak mengharamkan Pemerintahan yang bersistem kerajaan? Tanya kenapa? Apa karena Ulama disana digaji oleh kerajaan Saudi, yang bila menentang sistem kerajaan akan dipecat? Jadi takut dengan siapa? Takut kepada Allah? Atau takut miskin bila dipecat oleh kerajaan?

    Jadi siapa yang termasuk kalangan ‘ulama warasatil sulthan? Ulama kan seharusnya menjadi ‘Ulama warasatil Anbiyaa’.

    Wallahua’lam

  7. @Nurul Jundi al Firdausi

    Menjadi tergesa-gesa dalam beramal dan cepat dalam menghakimi sesama muslim sangat bertentangan dengan QS Al Fath : 29. Kalau sudah faham dengan ayat tersebut, bersegera buka QS Al Anfal : 46…

    QS: AL Fath 29 tidak berhubungan sama sekali dgn ”trergesa-gesa dlm beramal dan cepat dlm menghakimi sesama muslim”. Ayat itu mnggambarkan karakteristik seorang mukmin yg mereka keras thd org kafir dan berkasih sayang dgn sesamanya. Kl ada muslim yg meluruskan apa yg slh dr saudaranya, itu adalh bentuk kasih syangnya bukan sebaliknya. Rasulullah bersabda:”Tolonglah saudaramu dlm keadaan dzalim atau didzalimi, seseorang berkata:” Wahai Rasulullah aku tolong dia jika dia didzalimi, maka jika aku melihatnya dlm keadaan dzalim bagaimana aku menolongnya?” Rasulullah bersabda:”Kamu halangi dia atau kamu cegah dia dari kedzaliman, maka itulah pertolongan baginya”[Bukhari dalam shahihnya 6/2550]. Demikian jg dlm surat Al Ashr, yg mana kita kita diperinthkan utk saling nashat-menasehati dlm kebaikan. Kl Anda mau jujur dan bersikap terbuka, justeru yg keras thd kaum muslimin adalh tokoh idola anda Sayyid Quthb, dia mengatakan:“Manusia telah murtad, (keluar dari Islam- red) kepada menyembah mahluk (paganisme) dan berbuat jahat terhadap agama serta telah keluar dari kalimat laa ilaha illa Allah. Walapun sebagian mereka masih mengumandangkan laa ilaha illa Allah diatas tempat beradzan.[Fii Zhilalil Qur’an 2/1057, cet. Darusy Syuruq]. Para pengagung pemikiran dialah yg seharusnya anda nasehati! Justeru, sikap ”lembek” thd orang kafir sekarang menjangkiti kaum muslimin. Mrk sdh terbiasa dan bangga dg budaya2 dan pemikiran org kafir, semisal Democrazy, mereka bela dg semangatnya, sampai2 org yg tdk ikut menegakkan demokrazy dan yg menasehati mereka akan hal itu dibantah habis2an. (Na’udzbillah).

    Jd skr pertanyaannya ganti, apakah Anda sudah paham ayat tsb(Al Fath 29)?

    Kl Anda menghendaki tidak ada yg boleh membantah pihak/gol yg salah(misal ahlul bid’ah), maka anda menyelisihi manhaj dakwah Rasulullah dan Salafus Shalih. Skr Anda buka surat An Nahl 125, disitu disyariatkannya membantah dg cara yg baik. Demikian jg hadist2 yg bercerita ttg bantahan Rasulullah dan Sahabat thd orang2 yg menyelisih mereka, misal Khawarij, Qadariyah,dll. Ya akhi-smoga Allah merahmatimu-, hendaknya kita tdk tergesa-gesa(sbmn perkataan anda sendiri) dlm beramal, sbgmn pengmbilan dalil yg slh dan menempatkanny tdk sbgmn semestinya. QS Al Anfal 46, memerintahkan kaum muslimin utk tunduk dan patuh di atas al Haq (al Quran dan Sunnah), inilah yg akan mempersatukan umat Islam. Adanya perselisihan (semisal banyaknya partai dg ideologi yg berbeda2) itulah yg menyebabkan saling membantah yg akan melemahkan kekuatan kaum muslimin. Dgn menkonsumsi racun pemikiran demokrazy, maka akan membuka peluang lebar2 terjadinya perpecahan kaum muslimin, inilah yg dikehendaki kaum kafir. Oleh krn itu, solusi sbgmn dlm surat tersebut adlh bersatu dg kepatuhan kpd Allah dan Rasul-Nya.

    Kalau ternyata masih memandang pemikiran sendiri sebagai yang paling benar, maka Ya Allah…jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bershabar…

    Itu bkn kalimat bantahan yg benar! Dan itu indikasi bhwa Anda sendiri tdk paham dg pemikiran anda sendiri benar atau salah. Pdhal Rasulullah sudah mengatakn hanya SATU golongan yg masuk surga, dan yg lain di neraka (HR Abu Dawud, Ahmad, Al Hakim). Ini menunjukkan bhwa Rasulullah mengklaim hanya SATU golongan yg benar, yaitu golongan yg berada di atas sunnah Rasulullah dan pemahaman sahabat(HR. Tirmidzi 5/26, al Hakim I/128-129, dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radliyallahu’ahu). Namun tidak lazim kekal di neraka sbgmn perkataan Imam Syatibi dlm Al-I’tisham 2/198, hanyalah menunjukkan ancaman. Kl demikian adanya, maka semisal JIL akan dg mudahnya mnyebarkan pemikirannya, krn kita hanya SABAR saja tanpa dibarengi dg mendakwahi mrk, lihat surat Al ’Ashr(3)

    …dengan menjadikan dalil sebagai alat perdebatan untuk mempertahankan hujjah ashobiyyah…

    Ya akhi berhati-hatilah kl berucap! Dalil al Quran dan Sunnah adalah mutlak hujjah menegakkan kebenaran. Dan dalil adalah senjata utama kaum muslimin jika berlainan pendapat. Statemen Anda ini dibantah oleh al Quran Surat An Nisa 59. Ashobiy?? Ya, Anda benar saya memank fanatik kepada Manhaj Rasulullah dan Sahabat serta pemahaman mereka dlm urusan agama ini(Surat At Taubah 100), bukan membebek kpd pemikiran tokoh tertentu, lebih2 pemikiran kaum kuffar (ex :democrazy)!

    Ya Alloh hidupkan dan matikan aku di atas Sunnah dan Manhaj Rasulullah dan para sahabat……….

  8. @Nurul Jundi al Firdausi

    …Sebagaimana sistem kerajaan yang tidak pernah diajarkan dalam Islam. Padahal sistem kerajaan adalah sistem yang memperturutkan hawa nafsu, karena pemerintahannya adalah turun-temurun…

    Adapun bentuk pemerintahan kerajaan dengan sistem pengangkatan kepala negara berdasarkan turun temurun dari bapak kepada anak atau dari kakak kepada adik, memang sistem politik yang demikian SANGAT BERTENTANGAN dengan agama demokratisme. Ketika tidak menerapkan sistem dan jalur demokratisme dalam proses pengangkatan kepala negara itu, meskipun keluarga tersebut mempunyai keahlian politik dan keahlian kepemimpinan kenegaraan yang telah teruji berpuluh-puluh tahun bahkan hampir beratus tahun, dan sistem pemerintahan demikian telah berhasil memakmurkan dan mensejahterakan rakyat Saudi ‘Arabiya. Namun sistem pemerintahan demikian dianggap dzolim oleh agama demokratisme

    Terus kalo sistem kerajaan TIDAK pernah diajarkan dalam Islam, apakh kemudian Anda katakan DeMoCRZY pernah diajarkan oleh ISLAM?? Dan jg tidak memperturutkan hawa nafsu?? Sungguh statemen anda ini membingungkan!! Di satu sisi, Anda kelihatannya menganggap sesuatu itu harus mendasarkan pd Islam, namun di satu sisi Anda mendukung Democrazy, yang jelas jelas tidak lagi ada dalam Islam, namun justeru sangat bertentangan dengan Islam!!! Yang tegas donk kl bersikap!!

    …Di Saudi, kenapa Ulama Salaf tidak mengharamkan Pemerintahan yang bersistem kerajaan? Tanya kenapa?…

    -Semoga Allah menambah pemahaman kita akan agama Islam-, yang bilang mengharamkan pemerintahan itu siapa mas?? Yang saya katakan haram (bdsarkan dalil) adalah manhaj democrazy itu sendiri! Sedangkan pelakunya berdosa. Contoh : Zina adalah HARAM, sedangkan pelaku zina itu BERDOSA. Perlu anda ketahui, Saudi Arabiya walaupun dg segala kekurangannya, adalah negara yg satu-satunya yg berpedoman dgn Al Quran dan Sunnah dan tidak berpedoman dg manhaj kuffar Democrazy dlm sistem pemrintahannya.

    Apa karena Ulama disana digaji oleh kerajaan Saudi, yang bila menentang sistem kerajaan akan dipecat? Jadi takut dengan siapa? Takut kepada Allah? Atau takut miskin bila dipecat oleh kerajaan?…

    Anda perhatikan ucapan Anda sendiri, itu semua hanya didasarkan hawa nafsu! Bener ndak?? Mana buktinya bahwa Ulama yg Anda maksud TIDAK takut kpd Allah melainkan TAKUT MISKIN?? Apakah Anda sudah MEMBELAH dan MELIHAT isi hati mereka?? Sehingga keluar ucapan prasangka yg tidak tahu adab itu! Dan perkataan Anda ini adalah bentuk pelecehan thd Ulama Rabbani. Segeralah anda bertaubat atas ucapan anda itu. Allah Ta’ala berfirman :”Hai org2 beriman jauhilah olehmu kebanyakan prasangka(kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu adalah DOSA (Hujuurat 12).

  9. saya nggak mau golput,(saya punya pilihan koq)
    tapi golput itu sendiri bukan haram.
    silahkan yang mau golput.

  10. @adi isa
    sama dunk mas, saya juga punya pilihan. Pilihan saya adalah Alloh dan Rasul-Nya…….

  11. […] si khatib menyampaikan prolog seputar golput. Dia katakan bahwa golput adalah orang-orang yang putus asa. Maksudnya apa? Yang dimaksud si khatib […]

  12. assalamu alaikum wr. wb.

    Permisi, saya mau numpang posting (^_^)

    http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/

    sudah saatnya kita ganti sistem, semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…

    Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
    Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)

    wassalamu alaikum wr. wb.

    Saya tidak mrekomendasikan antum semuamengambil rujukan Hizbut Tahrir, cukuplah rujukan para Ulama Salaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: